Apr
16

Zikir Ismu Dzat

12 Jumadil Awal 1432H ==> Admin Sepuluh ==> JALANPINCANG
Dzikir ismu dzat pertama kali dibai’atkan oleh Nabi kepada Abu Bakar Shiddiq ketika dia sedang menemani Nabi berada di Gua Tsur, pada saat sedang dalam perjalanan hijrah atau dalam persembunyian dari kejaran orang-orang Quraisy.
 
Ketika sedang panik-paniknya dalam persembunyian, Nabi mentalqinkan dzikir ini dan sekaligus cara muraqabah ma’iyyah (kontemplasi dengan pemusatan keyakinan bahwa Allah senantiasa menyertainya). Selanjutnya ditalqinkan kepada Salman al-Farisi,
lalu kepada Qasim bin Abi Bakar, lalu kepada Ja’far Shadiq, dan seterusnya sampai pada mursyid-mursyid tarekat.
Dzikir Ismu Dzat Allah-Allah diajarkan kepada murid dengan kaifiat yang tertentu.
Caranya adalah seperti berikut, murid hendaklah membersihkan hati dari sebarang kekuatiran dalam hati dan sebarang khayalan perkataan hati dengan melakukan Istighfar dalam bilangan yang ganjil.
 
Lenyapkan segala fikiran tentang perkara yang telah lepas dan yang akan datang. Mohon perlindungan Allah dari segala kejahatan dan tipu daya Syaitan yang terkutuk dengan membaca Ta’awuz.
 
Membaca Bismillah dan Surah Al-Fatihah sebagai sarana menyambung kepada sekalian Arwah Muqaddasah (Ruh-Ruh yang telah disucikan).
 
Seterusnya seseorang murid hendaklah membayangkan maut yakni menghadirkan saat kematian diri. Ini merupakan pintu bagi memasuki Alam Ghaib dan menuju ke Hadhrat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini juga merupakan pintu untuk menghubungi Para Arwah Muqaddasah Mashaikh Akabirin .
 
Pada waktu sedang berdzikir hendaklah melenyapkan segala perkataan, kekhuatiran dan khayalan di dalam hati dan fikiran yang selain Allah. Hati hendaklah menyebut Allah Allah dengan merendahkan diri. Jikalau kekhuatiran dan khayalan hati itu tidak dapat dilenyapkan, maka hendaklah membayangkan wajah syekh-nya. Bayangan Syeikh hendaklah digambarkan dalam fikiran di kedudukan antara dua kening, kemudian berada pada kedudukan pertengahan dengan hati kita, lalu memelihara bayangan wajah Syeikh di dalam hati.
 
Setelah membersihkan hati dari kekhuatiran dan khayalan hati, hendaklah sibuk melaksanakan Dzikir Ismu Dzat Allah-Allah.
 
Untuk menghilangkan kekhuatiran dan khayalan hati, hendaklah benar-benar merendahkan diri dan hati melakukan Dzikir Ismu Dzat dengan sempurna. Dalam melaksanakan dzikir, memelihara Wuquf Qalbi sangatlah penting yaitu diri bertawajjuh terhadap hati dan hati bertawajjuh kepada Dzat Allah Ta’ala. Wuquf Qalbi amat penting karena berdzikir tanpanya tidak mendatangkan faedah yang jelas.
Berdzikir tanpa Wuquf Qalbi akan mendatangkan kehuatiran dan khayalan hati.
 
Sentiasa berdzikir dengan memelihara syarat-syaratnya yaitu tempelkan ujung lidah ke langit-langit dan dengan menggunakan lidah hati hendaklah menyebut Allah Allah di maqam Latifah Qalb yaitu pada kedudukan dua jari di bawah tetek kiri cenderung ke arah ketiak sambil memahami pengertiannya iaitu, Dzat Allah adalah bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan suci dari segala sifat kekurangan.
 
Letakkan dalam fikiran bahwa diri kita beriman dengan Dzat Allah tersebut yakni mewujudkan Dzat Allah dalam fikiran dan disebutkan sebagai Wujud Haqiqi.
 
Ketika berdzikir secra ritual, hendaknya syarat dan tata cara seperti tersebut, badan dan lidah digerakan harus dilakukan. Setelah terlatih setiap waktunya hendaklah berdzikir menggunakan lidah hatinya sehinggalah hatinya menjadi sentiasa berdzikir.
 
Seterusnya hendaklah berdzikir Ismu Dzat iaitu Allah Allah pada maqam-maqam yang telah dijarkan hingga mencapai kefanaan yang sesungguhya. Lenyap dari segala unsur Jasmani lahir bathin, lenyap dari unsur fikiran dan desir hati.
 
Sumber : http://www.jabalqubis.org (Thariqat Naqsabandiyah )

15 comments


15 Responses to “Zikir Ismu Dzat”

  1. arief

    Boleh kang mengamalkanya?

  2. Si Pincang

    @arif: seperti di penjelasan sebelumnya, di NAFY ISBAT. Silakan saja, buat latihan.

  3. ali

    kalau mau baiatan tobib ruhani 7 , ada puasa nya gak kang??? trus kalau T 40 pake puasa gak?? saya dulu hanya puasa 4 hari..yg jahar, yg sirri gak..

  4. Si Pincang

    @ Ali : aku lupa, dulu puasa nggak ya.. seingatku dianjurkan puasa. kalua T 40 dulu bersama puasa romadhon.. maklum bai'atnya sudah 15 tahun lalu..

  5. tirtamaulana_maghribi

    assalamu’alaikum wr.wb

    yang benar itu marifat trus syariat lalu hakekat apa syariat trus hakekat lalu marifat???????

    Si Pincang Menanggapi:

    Yang bener, syareat jalan berdampingan dengan hakekat, tidak bercampur. Sejak awal hal tersebut juga harus mengenal (Ma’rifat).

    Semua berjalan bersama menuju Hamba Ahli Syukur..

    tirtamaulana_maghribi Menanggapi:

    kenapa tidak bercampur syareat dan hakekat???? bukankah syareat dan hakekat harus seiring sejalan untuk bertemu denganNYA??? trus sejak awal harus mengenal (ma’rifat) yang bagaimana???

    Si Pincang Menanggapi:

    Memang begitu, makanya ada “pertemuan dua lautan” atau sering di sebut MAJMA’AL BAHRAIN, dalam kisah Nabi Musa – Nabi Khidir.

    Jadi lautan Syareat bertemu dengan lautan Hakekat.. maka disitulah tumbuh POHON TOYYIBAH. Jadi ‘bertemu’ bukan ‘bercampur’

    Untuk ma’rifat artinya kenal… ya mesti kenal dulu. Dulu ketika kita TK sudah diajari syahadat.. maksudnya kita dikenalkan Tuhan yang bernama Allah.. Nah semakin lama ya kita harus lebih kenal kepada yang kita sembah.. masak tetep kayak kita dulu masih TK..

  6. tirtamaulana_maghribi

    sebelumnya mohon maaf jika nanti ada ketikan saya yg salah,

    memang ma’rifat artinya kenal tapi mengenal yg bagaimana??? apa hanya mengenal “Asma-Nya”???
    atau mengenal melalui penyaksian karena ada satu ayat di surat Thaahaa insya Allah artinya “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. 20:14)

    pengertian ayat ini “……..dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

    pertanyaannya mengingat yang bagaimana??? karena definisi ingat itu kalau kita pernah Ma’rifat pasti kita bisa ingat jadi pengertiaannya kita harus ma’rifat dulu baru kita bisa mendirikan shalat.

    Si Pincang Menanggapi:

    Ada penjelas cukup panjang tentang hal ini, secara singkatnya sbb :

    INNANII ANALLOOHU LAA ILAAHA ILLAA ANAA FA`BUDNII WA AQIMISH SHOLAATA LIDZIKRII. ( Q.S. Thoha / 20 / Ayat 14 ).

    Artinya : ” Sesungguhnya Aku , ya Aku Alloh, tidak ada Tuhan melainkan Aku , maka Ibadahlah kamu kepada Ku dan tegakkanlah sholat karena dzikir kepada KU ”

    Dari ayat itu timbul sbb :

    1. ALLOH ITU ADALAH NAMA.
    2. NAMA ITU BUKAN HAKEKAT YANG DINAMAKAN.
    3. TIDAK MENYEMBAH NAMA TETAPI MENYEMBAH YANG MEMPUNYAI NAMA.

    FA`BUDNII
    Boleh memaknai : ” Maka tauhidlah kepada Ingsun (kepadaKu) “.
    Boleh juga memaknai : ” Maka ibadahlah kepada Ingsun (kepadaKu) “.

    Nama dengan Yang Dinamakan itu berbeda.

    WALILLAAHIL ASMAA-UL HUSNAA FAD`UUHU BIHAA. ( Q.S. Al A’rof / 7 / Ayat 138 ).
    Artinya : ” Dan kepunyaan Alloh Nama-Nama yang baik ( Asma-ul Husna ), maka berdoalah kamu dengan perantaraannya ( Asma-ul Husna )”.

    Pada ayat diatas ada kalimat FAD-UUHU BIHAA artinya : ” Berdo`alah dengan perantaraan Asmaul Husna “.
    Jadi Asma atau Nama itu bisa dijadikan perantaraan untuk berdo`a.
    Dan sudah tentu antara Yang Dimohoni dengan Nama yang dijadikan perantara untuk memohon itu berbeda.

    Maka berdasarkan ayat diatas, jelaslah bahwa Nama itu bukan hakekat Yang Dinamakan.

    Oleh sebab itu maka perintah ibadah dalam surat Thoha/ayat 14 tersebut memakai kalimat : FA`BUDNII yang artinya :” Maka menyembahlah kepadaKu “, bukan : FA`BUDULLOH ” Maka sembahlah Alloh “.

    Semoga manfaat

    tirtamaulana_maghribi Menanggapi:

    terima kasih atas penjelasannya :)

    jenggo Menanggapi:

    Siiip….tenan….maturnuwun…

    bismaraga Menanggapi:

    memang ma’rifat artinya kenal tapi mengenal yg
    bagaimana??? apa hanya mengenal “Asma-Nya sprti waktu tk gitu sudah lngsung boleh/sah lnjut ke syariat hakikat ???

  7. didikyulianto

    assalaamualaikum wr.wb.
    alhamdulillah ….nuwun sewu ikutan ngaji gus…..

    Si Pincang Menanggapi:

    Monggo… mugi manfaat

Silakan Komentar

Harus LOGIN Untuk Komentar.