Apr
16

Zikir Ismu Dzat

12 Jumadil Awal 1432H ==> Admin Sepuluh ==> JALANPINCANG

Dzikir ismu dzat pertama kali dibai’atkan oleh Nabi kepada Abu Bakar Shiddiq ketika dia sedang menemani Nabi berada di Gua Tsur, pada saat sedang dalam perjalanan hijrah atau dalam persembunyian dari kejaran orang-orang Quraisy.   Ketika sedang panik-paniknya dalam persembunyian, Nabi mentalqinkan dzikir ini dan sekaligus cara muraqabah ma’iyyah (kontemplasi dengan pemusatan keyakinan bahwa Allah [...]

BELUM LOGIN ?...LOGIN DULU YA... Belum bisa caranya, ke CARA LOGIN/REGISTER

15 comments


15 Responses to “Zikir Ismu Dzat”

  1. arief

    Boleh kang mengamalkanya?

    [Balas]

  2. Si Pincang

    @arif: seperti di penjelasan sebelumnya, di NAFY ISBAT. Silakan saja, buat latihan.

    [Balas]

  3. ali

    kalau mau baiatan tobib ruhani 7 , ada puasa nya gak kang??? trus kalau T 40 pake puasa gak?? saya dulu hanya puasa 4 hari..yg jahar, yg sirri gak..

    [Balas]

  4. Si Pincang

    @ Ali : aku lupa, dulu puasa nggak ya.. seingatku dianjurkan puasa. kalua T 40 dulu bersama puasa romadhon.. maklum bai'atnya sudah 15 tahun lalu..

    [Balas]

  5. tirtamaulana_maghribi

    assalamu’alaikum wr.wb

    yang benar itu marifat trus syariat lalu hakekat apa syariat trus hakekat lalu marifat???????

    [Balas]

    Si Pincang Menanggapi:

    Yang bener, syareat jalan berdampingan dengan hakekat, tidak bercampur. Sejak awal hal tersebut juga harus mengenal (Ma’rifat).

    Semua berjalan bersama menuju Hamba Ahli Syukur..

    [Balas]

    tirtamaulana_maghribi Menanggapi:

    kenapa tidak bercampur syareat dan hakekat???? bukankah syareat dan hakekat harus seiring sejalan untuk bertemu denganNYA??? trus sejak awal harus mengenal (ma’rifat) yang bagaimana???

    [Balas]

    Si Pincang Menanggapi:

    Memang begitu, makanya ada “pertemuan dua lautan” atau sering di sebut MAJMA’AL BAHRAIN, dalam kisah Nabi Musa – Nabi Khidir.

    Jadi lautan Syareat bertemu dengan lautan Hakekat.. maka disitulah tumbuh POHON TOYYIBAH. Jadi ‘bertemu’ bukan ‘bercampur’

    Untuk ma’rifat artinya kenal… ya mesti kenal dulu. Dulu ketika kita TK sudah diajari syahadat.. maksudnya kita dikenalkan Tuhan yang bernama Allah.. Nah semakin lama ya kita harus lebih kenal kepada yang kita sembah.. masak tetep kayak kita dulu masih TK..

  6. tirtamaulana_maghribi

    sebelumnya mohon maaf jika nanti ada ketikan saya yg salah,

    memang ma’rifat artinya kenal tapi mengenal yg bagaimana??? apa hanya mengenal “Asma-Nya”???
    atau mengenal melalui penyaksian karena ada satu ayat di surat Thaahaa insya Allah artinya “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”. (QS. 20:14)

    pengertian ayat ini “……..dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

    pertanyaannya mengingat yang bagaimana??? karena definisi ingat itu kalau kita pernah Ma’rifat pasti kita bisa ingat jadi pengertiaannya kita harus ma’rifat dulu baru kita bisa mendirikan shalat.

    [Balas]

    Si Pincang Menanggapi:

    Ada penjelas cukup panjang tentang hal ini, secara singkatnya sbb :

    INNANII ANALLOOHU LAA ILAAHA ILLAA ANAA FA`BUDNII WA AQIMISH SHOLAATA LIDZIKRII. ( Q.S. Thoha / 20 / Ayat 14 ).

    Artinya : ” Sesungguhnya Aku , ya Aku Alloh, tidak ada Tuhan melainkan Aku , maka Ibadahlah kamu kepada Ku dan tegakkanlah sholat karena dzikir kepada KU ”

    Dari ayat itu timbul sbb :

    1. ALLOH ITU ADALAH NAMA.
    2. NAMA ITU BUKAN HAKEKAT YANG DINAMAKAN.
    3. TIDAK MENYEMBAH NAMA TETAPI MENYEMBAH YANG MEMPUNYAI NAMA.

    FA`BUDNII
    Boleh memaknai : ” Maka tauhidlah kepada Ingsun (kepadaKu) “.
    Boleh juga memaknai : ” Maka ibadahlah kepada Ingsun (kepadaKu) “.

    Nama dengan Yang Dinamakan itu berbeda.

    WALILLAAHIL ASMAA-UL HUSNAA FAD`UUHU BIHAA. ( Q.S. Al A’rof / 7 / Ayat 138 ).
    Artinya : ” Dan kepunyaan Alloh Nama-Nama yang baik ( Asma-ul Husna ), maka berdoalah kamu dengan perantaraannya ( Asma-ul Husna )”.

    Pada ayat diatas ada kalimat FAD-UUHU BIHAA artinya : ” Berdo`alah dengan perantaraan Asmaul Husna “.
    Jadi Asma atau Nama itu bisa dijadikan perantaraan untuk berdo`a.
    Dan sudah tentu antara Yang Dimohoni dengan Nama yang dijadikan perantara untuk memohon itu berbeda.

    Maka berdasarkan ayat diatas, jelaslah bahwa Nama itu bukan hakekat Yang Dinamakan.

    Oleh sebab itu maka perintah ibadah dalam surat Thoha/ayat 14 tersebut memakai kalimat : FA`BUDNII yang artinya :” Maka menyembahlah kepadaKu “, bukan : FA`BUDULLOH ” Maka sembahlah Alloh “.

    Semoga manfaat

    [Balas]

    tirtamaulana_maghribi Menanggapi:

    terima kasih atas penjelasannya :)

    [Balas]

    jenggo Menanggapi:

    Siiip….tenan….maturnuwun…

    [Balas]

    bismaraga Menanggapi:

    memang ma’rifat artinya kenal tapi mengenal yg
    bagaimana??? apa hanya mengenal “Asma-Nya sprti waktu tk gitu sudah lngsung boleh/sah lnjut ke syariat hakikat ???

    [Balas]

  7. didikyulianto

    assalaamualaikum wr.wb.
    alhamdulillah ….nuwun sewu ikutan ngaji gus…..

    [Balas]

    Si Pincang Menanggapi:

    Monggo… mugi manfaat

    [Balas]

Silakan Komentar